Oleh: Nedi Arwandi | 9 Februari 2011

Ditemukan Planet Mirip Bumi

Pencarian planet-planet yang mirip Bumi dan kemungkinan terdapat kehidupan pada planet tersebut terus dilakukan. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dengan teleskop luar angkasa bernama Kepler sengaja dirancang secara khusus untuk mencari planet-planet seperti itu.

“Hanya dalam waktu setahun meneropong sebagian kecil galaksi kita, Kepler berhasil menemukan 1.235 planet di luar tata surya kita. Yang mengejutkan, 54 di antaranya kemungkinan dapat dihuni manusia, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin,” kata William Borucki, kepala ilmuwan yang terlibat dalam misi Kepler, Rabu (2/2/2011) malam waktu AS.

Ilustrasi : Planet Mirip Bumi

Ilustrasi : Planet Mirip Bumi

Dari 1.235 planet baru yang terdeteksi, 68 di antaranya seukuran Bumi, 288 super Bumi, 662 seukuran Neptunus, 165 seukuran Jupiter, dan 19 lebih besar dari Jupiter. Sementara dari 54 planet yang ditemukan di zona orbit yang mendukung kehidupan, 5 di antaranya seukuran Bumi dan sisanya antara super Bumi atau dua kali ukuran Bumi hingga seukuran Jupiter.
“Kami mulai dari nol ke 68 kandidat planet seukuran Bumi dan dari nol hingga 54 kandidat di zona yang mendukung kehidupan, sebuah wilayah di mana air dalam bentuk cair mungkin ada di permukaan planet. Beberapa kandidat mungkin juga memiliki bulan dengan air dalam bentuk cair,” jelas Borucki.

Penemuan planet yang mendukung kehidupan sebanyak 54 buah merupakan jumlah yang sangat banyak. Sejauh ini bahkan bisa dikatakan belum pernah ditemukan planet ekstrasurya yang benar-benar dapat dipastikan mirip Bumi dan kemungkinan dapat dihuni. Kalaupun mengandung senyawa organik dan zat-zat yang dibutuhkan untuk kehidupan, planet yang ditemukan biasanya terlalu jauh atau terlalu dekat bintangnya.

William J. Borucki

Meski disebut mendukung kehidupan, planet-planet tersebut belum dapat dipastikan ada kehidupan di sana saat ini seperti Mars misalnya. Kalaupun ada kehidupan mungkin berupa jasad renik seperti bakteri atau jenis kehidupan yang belum terbayangkan saat ini. Pekerjaan rumah berikutnya yang masih harus dilakukan para ilmuwan adalah menentukan ukuran planet-planet tersebut, komposisi, suhu permukaan, jarak dari bintangnya, kondisi atmosfer, dan kemungkinan adanya air serta senyawa karbon.

Semua planet asing tersebut ditemukan di galaksi Bima Sakti. Namun, jaraknya terlalu jauh dari Bumi dan mustahil mengirim misi ke sana. Dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini, perlu jutaan tahun untuk berkunjung ke planet-planet tersebut.

“Cucu-cucu kita yang akan memutuskan apa langkah selanjutnya. Apakah mereka akan pergi ke sana? Apakah mereka hanya akan mengirim robot ke sana?” kata Borucki.

Namun seberapa umum planet mirip Bumi di luar tata surya? Seth Shostak, astronom program Search for Extraterrestrial Inteligence (SETI) mengatakan bahwa jumlahnya mungkin umum.

“Dunia mirip Bumi mungkin sama umumnya dengan jumlah semut yang ditemui saat berpiknik,” katanya seperti dilansir situs astronomi Space.com, Rabu (9/2/2011). Tanggapannya muncul seiring dengan temuan 54 kandidat planet yang berpotensi mendukung kehidupan, hasil pengamatan dengan teleskop ruang angkasa Kepler.

Dr. Seth Shostak

Shostak mengatakan, sebanyak 54 kandidat planet memang masih sedikit untuk menyakini adanya kehidupan. Namun, ia percaya masih terdapat banyak kandidat planet lagi.

“Yang Anda butuhkan bukan hanya 50, lebih banyak lagi. Tapi, fakta menunjukkan bahwa terdapat jauh lebih banyak kandidat planet yang ada,” paparnya.

Meski planet mirip Bumi mungkin sangat umum, namun hal itu tak menjamin adanya kehidupan di planet tersebut. Jika pun ada, mungkin juga bukan kehidupan cerdas.

“Mungkin juga banyak terdapat kehidupan, tetapi sangat sedikit makhluk pintar yang bisa berkomunikasi lewat radio transmitter,” kata Shostak.

Yang jelas, temuan Kepler telah membantu astronom untuk memantapkan persamaan Drake. Persamaan itu digunakan SETI untuk memprediksikan kemungkinan komunikasi dengan alien.

Persamaan Drake mendasarkan pada 7 parameter, di antaranya fraksi bintang yang memiliki planet dan fraksi planet yang memiliki kemungkinan untuk mendukung kehidupan.

Shostak berpendapat, temuan Kepler dapat secara langsung memengaruhi perhitungan dengan persamaan tersebut. Akibatnya, prediksi pun bisa berubah.

Sumber  :  Kompas

——————————————————————

NASA TEMUKAN TATA SURYA BARU

Perbandingan Ukuran Bumi Dengan Planet Kepler

Obeservatorium luar angkasa milik NASA Kepler, menemukan sistem tata surya yang terdiri dari enam buah planet mengitari bintang serupa Matahari.

Oleh sejumlah astronom, planet-planet itu disebut sebagai mini Neptunus. Dua planet yang lebih dekat ke bintangnya diperkirakan memiliki atmosfir mengandung air.

Lima planet baru itu mengorbit dekat dengan mataharinya (Kepler 11), lebih dekat dibandingkan dengan jarak Matahari ke planet Merkurius milik tata surya kita.

Adapun planet keenam berada di jarak yang lebih jauh. Kurang lebih berjarak sama dengan jarak Matahari ke Venus.

“Ini merupakan sistem planet yang sangat rapat,” kata Jonathan Fortney, astronom dari Lick Observatory, University of California, Santa Cruz, seperti dikutip dari National Geographic, 4 Februari 2011.

Jonathan Fortney

Planet-planet tersebut (diberi nama Kepler 11b sampai Kepler 11g), kata Fortney, berukuran relatif kecil, mulai dari 2 hingga 4,5 kali ukuran Bumi. Selain itu, planet baru yang ditemukan juga ternyata sangat ringan. “Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar planet-planet itu terdiri dari gas,” ucapnya.

Dari penelitian, diketahui bahwa empat dari enam planet itu memiliki atmosfir tebal yang mengandung hidrogen dan helium.

Dua planet yang lebih dekat ke bintangnya memiliki densitas yang lebih tinggi. Diperkirakan, kedua planet ini memiliki atmosfir yang sebagian besar terdiri dari air, dan hanya sedikit hidrogen dan helium.

“Dapat menemukan banyak planet milik sebuah bintang dan dapat mengkalkulasikan kandungan planet itu merupakan anugerah ilmiah,” kata Fortney. “Sama seperti paleontologis yang mempelajari spesies dinosaurus, astronom bisa melihat banyak dunia lain yang lahir bersamaan untuk lebih memahami transformasi planet-planet,” ucapnya.

Kini, kata Fortney, kita bisa melakukan perbandingan ilmiah. “Kita bisa memperkirakan bagaimana evolusi planet-planet telah menyimpang sejalan dengan waktu,” ucapnya.

Sumber  :  Muhammad Firman , VIVAnews


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: